Tahapan finishing kayu yang tepat – Mengingat kayu merupakan salah satu jenis material yang paling banyak diandalkan untuk berbagai kebutuhan, tentu saja tak sulit bagi kita untuk menjumpainya dipasaran.
Selain diandalkan untuk bidang konstruksi, material kayu juga kerap menjadi pilihan utama untuk bidang mebel, furniture, kerajinan, dan lain sebagainya.
Seperti jenis material pada umumnya, yang mana kayu juga akan mengalami perubahan warna seiring dengan berjalannya waktu.
Maka dari itu, dibutuhkan proses finishing guna menjaga tingkat keindahan maupun kekuatan pada kayu tersebut.
Pengertian Finishing

Fungsi utama dari proses finishing ini bertujuan untuk memperindah tampilan kayu, entah itu dari segi warna maupun seratnya. Bukan hanya itu, bahkan proses finishing juga bisa memberikan perlindungan pada permukaan kayu agar tahan terhadap factor suhu dan cuaca.
Adapun mengenai bahan yang paling banyak diaplikasikan untuk proses finishing itu adalah yang berbasis oilbased. Pasalnya, bahan tersebut mempunyai konsep serta cara penggunaan yang terbilang cukup mudah.
Lantas, bagaimanakah cara melakukan tahapan finishing kayu yang tepat? Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya lagi mending kita simak saja langsung ulasan di bawah ini.
6 Tahapan Finishing Kayu
1. Proses Sanding

Tahapan pertama dalam proses finishing kayu, yakni melakukan sanding atau pengamplasan. Ya, hal ini bertujuan untuk membuat permukaan kayu tampak lebih mulus dan halus.
Melalui cara yang satu ini, maka serat-serat kayu yang tadinya tegak ke atas permukaan menjadi hilang. Tak cuma itu, proses pengamplasan juga dapat menumpulkan bagian ujung kayu yang tadinya meruncing.
Pada tahapan ini, maka kita harus mengamplas semua permukaan kayu dengan hasil yang maksimal untuk memudahkan proses berikutnya. Adapun ukuran kertas amplas yang dapat kamu gunakan untuk proses sanding, mulai dari 120 hingga 240.
Artikel Menarik Lainnya : Mengenal Jenis Finishing HPL
2. Proses Wood Filler

Apa yang dimaksud dengan Proses Wood Filler? Perlu kalian ketahui, Proses Wood Filler merupakan sebuah tahapan untuk menutupi lubang cacat ketika pengerjaan, dan menutupi pori-pori yang terlalu lebar pada kayu.
Dalam hal ini, kamu hanya perlu menyediakan warna dari wood filler yang hampir serupa dengan warna akhir maupun warna kayu yang akan diberi finishing. Apabila proses pengerjaannya sudah selesai, maka tampilan kayu akan tampak lebih rata dari sebelumnya.
3. Proses Staining

Selanjutnya adalah Proses Staining alias proses pemberian warna yang dilakukan dengan menggunakan alat semprot. Itu artinya, pemberian warna dengan alat semprot ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah base coat.
Setelah itu, kemudian cara pengaplikasiannya akan dilakukan melalui metode wipping. Kendati demikian, ada juga sebagian orang yang melakukannya dengan mencampurkan bahan base coat dengan wood stain.
Akan tetapi, kedua cara tersebut tergantung pada hasil warna akhir seperti apakah yang kamu inginkan.
4. Proses Sealer

Dalam tahapan finishing kayu yang satu ini, yakni berupa proses pengisian lapisan pelindung warna yang nanti dilakukan dengan menggunakan spray.
Sebenarnya proses sealer ini masih termasuk kedalam proses coating, sehingga setelah selesai kamu pun harus melakukan proses pengamplasan dari sealer tersebut.
Baca Juga : Yuk, Kita Ketahui Jenis-jenis Lisplang Beserta Fungsinya
5. Proses Glazing & Top Coat

Proses Glazing & Top Coat biasanya akan dilakukan secara berurutan. Untuk yang pertama adalah proses glazing, yang mana kita harus menambahkan kedalaman ketika dimulainya pewarnaan. Namun, cara ini bisa memakan waktu yang cukup lama, terlebih ketika proses pengeringan glaze tersebut.
Sementara tahapan keduaa berupa top coat, yaitu berupa lapisan paling atas yang disarankan untuk tidak mencampurkan dengan warna lain. Lebih tepatnya lagi, kamu hanya perlu menggunakan viskositas yang bertekstur lebih encer.
Hal itu bukan tanpa alasan, karena jenis top coat yang satu ini bisa dilakukan lebih dari satu kali. Jika semuanya sudah selesai dilakukan, selanjutnya harus dilakukan sanding kembali dengan menggunakan kertas gosok yang sudah diberi air.
Artikel Menarik Lainnya : Mengenal Macam-macam Jenis Kalsiobard Untuk Dinding & Plafon
6. Proses Polishing dan Compound

Tahapan terakhir dalam finishing kayu, yakni berupa Proses Polishing dan Compound. Proses ini merupakan bagian yang harus dijaga kualitas kayunya secara keseluruhan.
Terlebih saat menggosok permukaan kayu, maka kamu harus menggunakan satu arah saat proses finishing, entah itu compound maupun polishing.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sebaiknya kamu menggunakan kertas amplas yang berukuran 240 – 320.
Berbagai Tipe Finishing

1. Berdasarkan Tampilan Warna Kayu
Warna menjadi hasil akhir yang dilihat pada material kayu agar tampilannya tampak lebih berestetika. Hal itu bukan tanpa sebab, karena hasil finishing dibuat yang berdasarkan warna akan memiliki tampilan yang berbeda-beda.
Adapun mengenai tipe finishing kayu yang berdasarkan warnanya seperti berikut :
Warna Natural
Pada tampilan warna natural tentunya bisa kita lihat dari material yang berbahan kayu, entah itu property interior maupun property eksterior tanpa membutuhkan pengecatan.
Nah, hal inilah yang disebut dengan warna natural pada material kayu. Maka dari itu, proses finishingnya hanya perlu melakukan pengampasan atau menggunakan wax polish saja.
Warna Antik

Apabila ingin menghadirkan warna antik pada material kayu, maka kita bisa mengamplas pinggirannya secara pelan-pelan agar tercipta warna washed hingga efek goresan.
Tak hanya itu, kita juga bisa menggunakan metode penaburan kerikil pada materialnya dan menempatkan dengan material keras lain di bagian atasnya agar bisa digerakkan ke atas dan bawah. Dengan begitu, maka akan menimbulkan goresan alami pada kayunya.
Baca juga : 5 jenis serangga pemakan kayu
Warna Solid
Selanjutnya adalah warna solid yang memang tampak lebih pekat ketimbang warna natural maupun warna antik. Warna solid pun menjadi salah satu proses finishing yang paling umum digunakan oleh masyarakat.
Hal itu bukan tanpa alasan, karena cat duco pada pelapisan material kayunya bisa menciptakan warna solid yang sesuai dengan keinginan.
2. Berdasarkan Kilauannya
Adapun top coat yang bisa kita gunakan dalam proses pengecatan hasil finishing dapat dipilih sesuai selera, mulai dari nuansa glossy, doff, semi glossy, matt, death matt, hingga efek kilauaun-kilauan bening seperti kaca.
3. Berdasarkan Lebar Pori-pori Kayu
Sebenarnya permukaan yang kasar dan halus pada kayu dapat dipengaruhi oleh proses finishing yang dilakukan. Misalkan terdapat sebuah permukaan furniture berbahan kayu, dimana ia memiliki tekstur yang sebagian halus dan kasar.

Hal tersebut pun menjadi pertanda bahwa proses finishing yang berdasarkan lebar pori-pori bisa memicu efek tersendiri ketika kayunya di sentuh dengan tangan.
Pada tahapan ini lebih dikenal dengan istilah close pore finishing, yang mana penyelesaian hasil akhir material bertekstur halus dengan menutup semua pori-pori pda permukaan kayu. Sementara istilah open pore finishing ditujukan untuk hasi akhir yang mempunyai tekstur kasar.
Nah, seperti itulah ulasan singkat mengenai cara yang benar dalam melakukan tahapan finishing kayu, sehingga bisa kita jadikan sebagai bahan penambah wawasan.
Baca juga : Mengenal plywood

